Gerakan Rakyat – Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid melakukan kunjungan di ujung utara Indonesia untuk berdialog langsung dengan tokoh adat dan masyarakat di Pendopo Miangas, Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu (13/2/2026).
Dalam pertemuan yang dihadiri unsur pemerintah setempat dan kepolisian tersebut, Sahrin menyampaikan komitmen politiknya terhadap kesejahteraan warga perbatasan.
Sahrin menegaskan bahwa kehadirannya bertujuan untuk menyerap aspirasi secara langsung agar dapat diperjuangkan melalui jalur politik.
“Maksud kedatangan kami di sini adalah untuk mendengarkan langsung apa yang menjadi harapan warga di ujung utara Indonesia agar bisa kami perjuangkan ke depan, sekaligus mohon doa restu dari seluruh masyarakat Miangas,” jelas Sahrin.
Petrus, salah satu warga setempat menyampaikan apresiasi atas perhatian Gerakan Rakyat serta menyampaikan keluhan terkait keterbatasan akses transportasi, sehingga menyulitkan mobilisasi warga.
Sementara itu, Laling selaku tokoh masyarakat yang aktif dalam pembinaan majelis gereja, mengeluhkan persoalan pendidikan dan kesehatan, termasuk tidak adanya tenaga medis di Miangas.
“Di Miangas ini, sudah hampir dua tahun tidak ada dokter. Puskesmas ada, tapi tidak ada dokter dan tidak ada obat-obatan. Warga sangat kesulitan jika sakit,” keluh Laling.
Merespons keluhan warga mengenai ketiadaan tenaga medis selama dua tahun serta keterbatasan akses transportasi, Sahrin menjamin aspirasi tersebut akan menjadi agenda prioritas partai.
Baca juga: Perkuat Struktur KSB, DPC Partai Gerakan Rakyat Cikupa Gelar Konsolidasi Internal
“Seluruh aspirasi warga Miangas akan terus ia suarakan dan dijadikan sebagai bahan perjuangan politik Gerakan Rakyat ke depan, khususnya dalam mendorong pemerataan pembangunan dan pelayanan dasar di wilayah perbatasan Indonesia,” tanggapnya.
Kunjungan Ketum Sahrin merupakan bagian dari rangkaian perjalanan politik, setelah sebelumnya melakukan konsolidasi organisasi di Merauke, Papua Selatan. Di Miangas, ia secara spesifik menyoroti ketimpangan fasilitas kesehatan, seperti keberadaan Puskesmas yang tidak didukung oleh ketersediaan dokter maupun obat-obatan.


