Gerakan Rakyat – Sebuah peristiwa tragis menimpa YBR, seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Anak berusia 10 tahun tersebut ditemukan mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026) diduga karena putus asa setelah ibunya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen seharga Rp10.000.
Wakil Ketua Umum (Waketum) Gerakan Rakyat Bidang Peningkatan Kualitas Manusia, Mira Pane menyatakan bahwa peristiwa ini tamparan keras bagi pemerintah dan bukti nyata kegagalan negara dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem.
“Ibu Pertiwi menangis. Seorang anak sekolah dasar bunuh diri karena kemiskinan,” ujar Mira yang juga merupakan seorang psikolog di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: DPD Gerakan Rakyat Sukabumi Resmi Daftar ke Bakesbangpol, Targetkan Pemenangan Anies Baswedan
Berdasarkan informasi, YBR tinggal bersama neneknya berusia 80 tahun di gubuk bambu berukuran 2×3 meter. Sebelum kejadian, YBR sempat meminta uang untuk peralatan sekolah kepada ibunya, MGT (47), seorang janda yang bekerja sebagai buruh serabutan. Namun, karena kondisi ekonomi membuat permintaan itu tidak dapat dipenuhi.
Sebelum wafat, YBR meninggalkan surat pendek menggunakan bahasa Ngadha, “Kertas tii Mama Reti. Mama Galo zee. Mama molo ja’o. Galo Mata Mao Rita ee Mama”, artinya “Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya mama”.
Menurutnya, surat tersebut bukan sekadar pesan untuk keluarga, melainkan pesan bagi seluruh ibu. “Surat itu sesungguhnya bukan hanya untuk Mama Reti, surat itu untuk semua Ibu, surat untuk Ibu Pertiwi. Tanah air yang kaya, tapi telah membuat anaknya harus bunuh diri karena kehilangan harapan akan masa depan,” ungkapnya.
Gerakan Rakyat pun menyoroti tiga persoalan mendasar yang menjadi penyebab tragedi ini. Mira menilai pemberantasan kemiskinan masih sebatas retorika politik. Dengan begitu, ia mendesak perbaikan data agar bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi menyentuh seluruh rakyat tanpa terkecuali.
Baca juga: Patuhi Regulasi, DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Bekasi Resmi Daftar ke Bakesbangpol
“Jenjang SD harusnya sudah gratis, namun gratisnya baru pada iuran pendidikan, belum pada fasilitas kebutuhan anak didik berupa buku, alat tulis, maupun seragam,” ucap Mira.
Ia menuntut agar pendidikan gratis bagi warga miskin mencakup seluruh kebutuhan hingga ke tingkat perguruan tinggi demi memutus rantai kemiskinan.
Kemudian, kemiskinan ekstrem disebut sebagai pemicu toxic stress dan keputusasaan yang fatal. Mira meminta pemerintah menangani kesehatan mental secara struktural dan menggratiskan akses kesehatan bagi keluarga miskin.
Atas nama Gerakan Rakyat, Mira mengeluarkan empat tuntutan utama kepada pemerintah, mulai dari perbaikan data bantuan sosial hingga jaminan pendidikan dan kesehatan yang komprehensif bagi warga tidak mampu.
1. Betapa negara selama ini telah gagal melakukan pengentasan kemiskinan. Pemberantasan kemiskinan masih berupa demagogi, dan retorika politik belaka tanpa aksi yang kongkrit dan masif, yang belum dirasakan oleh seluruh rakyat.
Baca juga: Sebagai Arah Gerak Nasional, DPP Muda Bergerak Luncurkan “5 Poros Aksi Muda”
2. Kami mendesak pemerintah agar memperbaiki data kemiskinan dan merencanakan program bantuan sosial dan pemberdayaan yang benar dan masif serta menyeluruh. Tidak boleh ada satu orang-pun rakyat kita yang miskin terlewatkan dari mendapatkan bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
3. Pendidikan gratis untuk keluarga miskin harus menyeluruh, tidak hanya pada iuran sekolah, tapi juga menyangkut kebutuhan lainnya berupa buku, alat tulis sekolah, serta seragam sekolah, dan tunjangan lainnya yang diperlukan. Pendidikan gratis bagi anak dari keluarga miskin, haruslah sampai pada tingkat perguruan tinggi guna memotong kemiskinan di keluarga mereka.
4. Gangguan kesehatan mental telah menjadi laten di masyarakat kita. Kami meminta pemerintah untuk serius menanganinya dengan penanganan yang struktural, dan komprehensif. Akses kesehatan pada keluarga miskin dengan penyakit apapun harus digratiskan.
“Aksi bunuh diri YBR, seorang anak yang putus asa karena kemiskinan dan janji manis pendidikan gratis adalah tamparan keras buat kita semua. Terutama, buat Presiden yang selalu lantang berpidato bahwa pemerintahannya akan memerangi kemiskinan, serta buat pejabat yang mendapat amanah tapi kerjanya korupsi,” tutupnya.


