Peringati World Coconut Day, Gerakan Rakyat Gelar Diskusi “Mengembalikan Kejayaan Kelapa Indonesia”

September 10, 20260

Gerakan Rakyat – Dalam memperingati Hari Kelapa Sedunia 2026, Gerakan Rakyat menggelar diskusi publik dengan tema “Mengembalikan Kejayaan Kelapa Indonesia” di Kantor Sekretariat DPP, Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026) kemarin.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid beserta jajaran pimpinan, Ketua Dewan Pakar Gerakan Rakyat, Sulfikar Amir, praktisi industri, perwakilan pemerintah daerah penghasil kelapa, dan diramaikan oleh para peserta diskusi.

Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid menegaskan pentingnya menempatkan komoditas kelapa sebagai agenda prioritas nasional demi kesejahteraan petani serta kebangkitan ekonomi nasional.

“Ini adalah forum yang luar biasa. Saya senang sekali bisa bersama-sama dengan teman-teman dalam forum kelapa. Karena kita tahu bahwa membicarakan kelapa jarang sekali dilakukan oleh partai-partai,” ujar Sahrin.

Baca juga: Peringati Maulid Nabi, Gerakan Rakyat Kuningan Perkuat Silaturahmi dan Soliditas Organisasi

​Sahrin menyampaikan bahwa keberadaan komoditas kelapa memiliki keterikatan historis dan ekosistem dengan masyarakat luas. “Kelapa dari ujungnya sampai dengan akarnya semua memiliki manfaat. Dan saya kira Indonesia pernah berjaya dengan kelapa ini dengan menjadi penghasil kelapa nomor satu,” tuturnya.

Sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap kesejahteraan petani, Sahrin memastikan Gerakan Rakyat akan terus berpihak kepada komoditas kelapa di Indonesia. “Forum ini menunjukkan bahwa Gerakan Rakyat, baik sebagai ormas maupun sebagai partai politik, kita sangat peduli dengan petani kelapa yang ada dari sabang sampai merauke,” jelas Sahrin.

​”Dan harapan kita, In Syaa Allah kalau Partai Gerakan Rakyat ada di parlemen, Partai Gerakan Rakyat ada di istana, maka kelapa akan menjadi prioritas buat bangsa dan dunia,” lanjutnya.

Sebelum sesi diskusi dari keempat narasumber dimulai, Gerakan Rakyat turut mendampingi peluncuran buku “Kelapa Indonesia” karya Petrus Gunarso selaku Ketua Pembina Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia.

Peluncuran buku berjudul “Kelapa Indonesia”. (Dok. Humas DPP GR)

Baca juga: Keracunan MBG Kian Masif, Gerakan Rakyat: Makan Bergizi Gratis Alami Kegagalan Sistemik

Petrus menilai sektor hulu komoditas kelapa dihadapi oleh ancaman serius akibat minimnya peremajaan pohon (replanting) serta maraknya penebangan pohon kelapa tua untuk keperluan bahan bangunan tanpa adanya penanaman kembali.

“Pohon tua-tua yang umurnya 60 sampai 80 tahun itu ditebangin, terus enggak ada yang di-planting lagi, enggak ada yang menanam lagi. Itu keadaan nyata kelapa di lapangan. Sehingga jangan heran, kalau luasannya tetap, produksinya kita sekarang turun, kita kalah jauh dengan negara-negara lain,” ungkap Petrus.

“Nah, yang berbeda antara sawit dan kelapa adalah sawit itu 60 persen atau 50 persen itu dikelola oleh perusahaan besar, sedangkan 40 persen dikelola oleh rakyat. Kalau di kelapa, 99 persen dikelola oleh rakyat. Itu saja,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Koalisi Pemerintah Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK) sekaligus mantan Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo mengapresiasi keberpihakan Gerakan Rakyat terhadap komoditas kelapa yang mayoritas dikelola oleh rakyat.

Baca juga: Usung Transparansi, Partai Gerakan Rakyat Libatkan Anggota dalam Ambil Keputusan dan Pilih Capres

“Hari ini tentunya saya bergembira dan terima kasih kepada Gerakan Rakyat. Ini benar-benar gerakan rakyat. Kenapa? Tadi disampaikan komoditas ini adalah milik rakyat. 99 persen adalah milik rakyat,” ucap Nelson.

Nelson memaparkan komitmen daerah dalam memperluas area tanam kelapa hingga target 5 juta hektare, sembari mendorong perbaikan harga di tingkat petani.

“Khusus untuk hulu, memang ada problem hulu ini pembibitannya. Karena sampai hari ini bibit itu masih alamiah, belum ada yang dilakukan secara riset dengan baik,” pungkasnya.

Sesi diskusi dengan tema “Mengembalikan Kejayaan Kelapa Indonesia”. (Dok. Humas DPP GR)

Ketua Himpunan Pengusaha Briket Arang Kelapa Indonesia (HIPBAKI), Asep Jembar Mulyana menyampaikan keunggulan olahan tempurung kelapa Indonesia di pasar internasional. “Jadi industri briket arang kelapa Indonesia itu yang terbaik dan terbesar di dunia,” kata Asep.

Baca juga: Sahrin Hamid Tegaskan Partai Gerakan Rakyat sebagai Wadah Anak Muda dan Rakyat Biasa

Asep menyebut industri briket tempurung kelapa telah berhasil menyumbang devisa negara hingga Rp6 triliun lebih per tahun. “Hanya tempurung Indonesia yang jika dibakar warna abunya putih. Jadi Filipina, India, tidak bisa bikin briket yang kita produksi di sini,” terangnya.

Sekretaris Forum Kelapa Indonesia (FOKPI), Donatus Gede Sabon menekankan pentingnya intervensi kebijakan politik untuk mendorong hilirisasi produk turunan kelapa secara menyeluruh. “Hilirisasi ini kan sebetulnya lebih pada soal konsepsi tentang transformasi industri. Itu kan intinya di sana,” susul Donatus.

Menurutnya, komoditas kelapa memiliki keunggulan diversifikasi produk yang jauh lebih tinggi dibanding komoditas perkebunan lainnya. “Satu produk atau dua produk hilirisasi yang perlu didorong dengan effort dan kekuasaan, menurut saya hanya kekuasaan politik yang bisa mendorong. Pertama adalah industri minyak, harus didorong sampai ke oleokimia,” tutupnya.

Diskusi ini diharapkan menjadi momentum bersama bagi pemangku kebijakan, pelaku industri, dan asosiasi daerah untuk merumuskan tata kelola komoditas kelapa secara berkelanjutan dan menyejahterakan petani di hulu hingga industri di hilir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://gerakanrakyat.org/wp-content/uploads/2025/10/UNUNUNUNU-Photoroom.png
Copyright 2025, Yayasan Bakti Gerakan Rakyat