Gerakan Rakyat – Tokoh inspiratif Gerakan Rakyat, Anies Baswedan menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan untuk melakukan “Tobat Ekologis” sebagai respons mendesak terhadap serangkaian bencana alam yang terjadi belakangan ini di Indonesia.
Pernyataan tersebut menyoroti bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut adalah konsekuensi kolektif dari “ulah tangan manusia”. Bencana seperti badai, tanah longsor, banjir bandang, dan kerusakan habitat satwa, bukan hanya musibah alam biasa, melainkan “cermin diri” atas kesalahan kolektif dalam memperlakukan alam.
Anies menegaskan bahwa peristiwa alam seperti hujan lebat atau gunung meletus telah ada jutaan tahun lalu, namun menjadi bencana yang parah akibat pelanggaran etika terhadap alam.
“Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan,” ujar Anies, seperti dikutip Gerakan Rakyat dari akun media sosialnya, Jumat (28/11/2025).
“Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?” lanjutnya.
Anies mengingatkan kembali pentingnya Tobat Ekologis, sebuah konsep yang mengakui dosa kolektif pada bumi dan mengubah cara hidup, serta cara negara mengelola kekuasaan.
Meskipun iklim telah berubah dan bentang alam telah terluka parah, Anies menyatakan bahwa risiko bencana masih bisa dikurangi, dengan membutuhkan komitmen serius dan perubahan fundamental.
“Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat,” ungkap Anies.
Dalam pandangan yang disebutnya sebagai unpopular opinion, Anies menekankan bahwa ancaman krisis iklim bukanlah pada kelangsungan planet, melainkan pada keberlangsungan hidup umat manusia sendiri.
“Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi,” tuturnya.
Oleh karena itu, Tobat Ekologis merupakan upaya nyata untuk mengembalikan batas – batas keserakahan, keabaian, dan melanggar aturan, demi mewujudkan bumi yang layak huni bagi generasi mendatang.
“Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua,” tutup Anies.
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam,… pic.twitter.com/KlhwUWxPkx
— Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan) November 27, 2025


